Kamis, 22 Juni 2017

Sajadah Rindu

Rindu.
Diatas sajadah kutitipkan.
Derai cinta yang pernah Engkau berikan.
Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan.
Cinta yang hanya dalam diam.
Tak mampu mengungkapkan apalagi menyuruh untuk menaruh harapan. Rindu dalam diam ku puitiskan.
Kepada Engkau yang telah memberiku pengenalan.
Dengan dia jika memang sebaik-baik pilihan.

Selasa, 06 Juni 2017

Berlari dari Ketidakpastian

"Aku percaya setiap mereka itu sama. Jadi mengapa aku selalu berharap untuk dihargai. Sementara aku sendiri saja benci mereka."

Andai aku bisa. Menyuruh dia seperti yg ku minta. Tidak lebih dari peduli, hanya aku ingin dihargai.

Andai aku berani. Menyapa nya lagi. Tapi aku tahu dengan semua jawaban tak peduli. Aku benci. Jika harus terus mencintai.

Maaf Tuhan, aku memilih pergi. Tapi bukan berarti aku sudah tak peduli. Hanya saja aku sadar bahwa bertahan itu lebih menyakitkan daripada melepaskan.
Aku ingin pergi. Pergi dari mengharapkannya. Aku selalu meminta agar ia jauh dari jangkauan ku. Tapi nyatanya? Aku kembali. Kembali dengan rasa yang sama. Patah hati jangan ditanya. Karena itu pasti ada. Jadi bagaimana aku harus meminta agar dijauhkan darinya? Jadi bagaimana aku harus pergi? Apa dengan berhenti berharap karena dia hanya memberi janji tanpa ada harapan yang pasti. Dia berani datang pun harus berani pergi. Pergi dengan hal yang pasti. Ku beri dia hati, tapi tak juga ia kembalikan lagi. Kau boleh pergi asalkan kau kembalikan hati ini. Semula. Tanpa luka.

Jumat, 02 Juni 2017

Short post

Hidup itu bagaikan naskah drama yang ditulis oleh Allah subhanahuwata'ala di Lauh Mahfuz yang setiap manusia --sebagai pemainnya telah memiliki jalan cerita yang tidak diketahui sebelumnya. Sehingga kita tinggal mengikuti skenario dari Sang Pencipta

Kamis, 01 Juni 2017

Dia takkan mau menerima apa-apa

Karenamu aku mampu menegakkan Tahajudku --yg tak pernah ku tau-- hanya demi membawa namamu. Jadi kau menjadi org yg berarti bagiku. Karna kau membuatku lebih dekat dengan Rabbku. Jadi bagaimana aku harus membalasmu? Apa dgn menjauhimu itu cukup untukmu?
Aku tak pernah kenal apa itu cinta. Apalagi Allah belum mengajariku sebelumnya. Hingga aku jatuh pada hati yg salah. Untuk mengambil kembali pun cukup susah. Aku selalu tau bahwa setiap mencintai selalu ada hati yg tersakiti. Aku selalu tau dimanapun kamu, kau takkan melihatku. Aku hanyalah angin lalu. Aku layaknya kaca tebal yang buram dimatamu. Aku selalu mencoba pergi, tapi pun selalu kembali.
Sekarang aku tidak berani. Kembali menyapa orang yg tak pernah peduli. Seakan aku menjadi pengemis yg selalu berharap untuk diberi. Dan kau tahu apa yg kulakukan selama ini??? Hanya mencari tempat belajar menghargai.

Kaca Tebal Yang Buram

Aku hanyalah angin lalu. Sudah sedari dulu kusadari itu. Terimakasih karna kau selalu mengacuhkan aku. Terimakasih karna kau tidak terlalu baik padaku. Terimakasih atas segala pengajaran yg kudapat setelah mengenalmu. Tinggalkan aku. Jangan ingat aku. Sekarang aku benci, aku benci dgn hal paling menyedihkan yg harus ku lakukan kini. Ya, melupakan sosokmu. Tak seburuk itu. Aku tahu kau tertawa membaca pernyataanku. Bagaimanapun aku akan baik baik saja. Tanpamu.
Aku lebih baik disini. Dan merasa lebih pasti. Untuk mencapai sukses ku nanti. Biarlah aku disini. Menunggu seseorang yang siap menyapa ku. Membuatku terbang lebih tinggi. Dan mencapai semua mimpi.

Hidup dengan Perbandingan?

Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...