Sajadah Rindu
Angin lalu menyapaku yang tengah bisu
Aku kini tak percaya pada Ilusi semu
Kembali ke masa yang tak pernah ku tahu
Berujung di tengah alunan nada berajut warna biru
Dan semua berakhir kata tunggu
Bersabarlah kamu
Waktu akan berlalu
Meninggalkan kisah penyesalan sendu
Mengubah rasaku seperti dahulu
Mengenang percakapan malam di mana bulan dan bintang tak kunjung bertemu
Menanti kehangatan mentari pada dinginnya malam selalu menghadirkan rindu
Aku memang tak pernah sehebat kamu
Namun ku percaya kau telah mampu menghebatkanku
Ku harap kita kembali bertemu
Pada jalan panas dalam langit biru
Aku menunggu
Sembari ku benari sajadahku.
Sabtu, 14 Juli 2018
Ilusi Semu
Ilusi Semu
Secerca cahaya hinggap pada jendela kesendirian
Sepasang mata tersenyum tipis tanpa binar
Langkahnya masih dibersamai dengan hati besar keegoisan
Pesanku terbawa angin tanpa tujuan
Tak tahu akan tersampaikan
Setetes ilusi jatuh dalam palung setengah mengitari lautan
Nampaknya ia rindu akan sekumpulan air yang meneduhkan
Sayangnya itu hanya ketiadaan tanpa harapan keadaan.
Rasaku terbangkan ke langit
Namun kalah oleh mendungnya serta hati
Dia bilang sudah saja kau menyerah
Aku pasrah
Yang hilang biarlah hilang
Sebab apa-apa bukan milikku
Tenggelam bersama daun yang baginya adalah mekar
Harus ku lalui meski hati menyakiti fikirannya sendiri
Baik-baik di sana wahai embun Yang bersahaja
Secerca cahaya hinggap pada jendela kesendirian
Sepasang mata tersenyum tipis tanpa binar
Langkahnya masih dibersamai dengan hati besar keegoisan
Pesanku terbawa angin tanpa tujuan
Tak tahu akan tersampaikan
Setetes ilusi jatuh dalam palung setengah mengitari lautan
Nampaknya ia rindu akan sekumpulan air yang meneduhkan
Sayangnya itu hanya ketiadaan tanpa harapan keadaan.
Rasaku terbangkan ke langit
Namun kalah oleh mendungnya serta hati
Dia bilang sudah saja kau menyerah
Aku pasrah
Yang hilang biarlah hilang
Sebab apa-apa bukan milikku
Tenggelam bersama daun yang baginya adalah mekar
Harus ku lalui meski hati menyakiti fikirannya sendiri
Baik-baik di sana wahai embun Yang bersahaja
Sabtu, 07 Juli 2018
Kenangan Senja
Selamat malam penantian, terima kasih ku ucapkan untuk hari ini sebab kamu masih bersama ku dalam kesabaran. Kini beristirahatlah sejenak. Sederetan tanya telah mengajukan dirinya hingga menerjang sampai ke tengah kesunyian.
Mengapa aku tidak mau memulai terlebih dahulu tentang sebuah percakapan sederhana?
Apa aku terlalu takut untuk melihat matamu? Jatuh. Kemudian sulit kembali ke pangkuan angan ku sendiri. Maafkan aku atas waktu yang telah terbunuh sia-sia. Sudah terlalu lama semua bermain dengan perannya. Aku sudah terlanjur jahat terhadap mu, maaf. Telah ku tetapkan pada hatiku yang berdebu, membersihkan dengan air mata kesadaran. Sekarang saatnya memenuhi panggilan hati kecilku. Sebab seluruh yang ada bisa membuat perubahan. Mulailah dengan memberi, apa yang kau miliki dan pahami. Kini malam ku berteman dengan secarik kertas runcing. Ku simpan langkah-langkah yang telah ku ukir. Selamat jalan untukmu yang akan meraih mimpi. Pergilah dengan kebaikan yang ada padamu. Kamu hebat karena telah menghebatkanku. Terima kasih untukmu, yang teramat baik.
Mengapa aku tidak mau memulai terlebih dahulu tentang sebuah percakapan sederhana?
Apa aku terlalu takut untuk melihat matamu? Jatuh. Kemudian sulit kembali ke pangkuan angan ku sendiri. Maafkan aku atas waktu yang telah terbunuh sia-sia. Sudah terlalu lama semua bermain dengan perannya. Aku sudah terlanjur jahat terhadap mu, maaf. Telah ku tetapkan pada hatiku yang berdebu, membersihkan dengan air mata kesadaran. Sekarang saatnya memenuhi panggilan hati kecilku. Sebab seluruh yang ada bisa membuat perubahan. Mulailah dengan memberi, apa yang kau miliki dan pahami. Kini malam ku berteman dengan secarik kertas runcing. Ku simpan langkah-langkah yang telah ku ukir. Selamat jalan untukmu yang akan meraih mimpi. Pergilah dengan kebaikan yang ada padamu. Kamu hebat karena telah menghebatkanku. Terima kasih untukmu, yang teramat baik.
Langganan:
Komentar (Atom)
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...
-
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depa...
-
Rindu. Diatas sajadah kutitipkan. Derai cinta yang pernah Engkau berikan. Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan. Cint...
-
Bumi dan Air Bumi dan air adalah kehidupan. Manfaatnya dirasakan oleh setiap insan. Aku mencintai lingkungan. Kamu pun tiada enggan me...
