Selamat malam penantian, terima kasih ku ucapkan untuk hari ini sebab kamu masih bersama ku dalam kesabaran. Kini beristirahatlah sejenak. Sederetan tanya telah mengajukan dirinya hingga menerjang sampai ke tengah kesunyian.
Mengapa aku tidak mau memulai terlebih dahulu tentang sebuah percakapan sederhana?
Apa aku terlalu takut untuk melihat matamu? Jatuh. Kemudian sulit kembali ke pangkuan angan ku sendiri. Maafkan aku atas waktu yang telah terbunuh sia-sia. Sudah terlalu lama semua bermain dengan perannya. Aku sudah terlanjur jahat terhadap mu, maaf. Telah ku tetapkan pada hatiku yang berdebu, membersihkan dengan air mata kesadaran. Sekarang saatnya memenuhi panggilan hati kecilku. Sebab seluruh yang ada bisa membuat perubahan. Mulailah dengan memberi, apa yang kau miliki dan pahami. Kini malam ku berteman dengan secarik kertas runcing. Ku simpan langkah-langkah yang telah ku ukir. Selamat jalan untukmu yang akan meraih mimpi. Pergilah dengan kebaikan yang ada padamu. Kamu hebat karena telah menghebatkanku. Terima kasih untukmu, yang teramat baik.
Sabtu, 07 Juli 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...
-
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depa...
-
Rindu. Diatas sajadah kutitipkan. Derai cinta yang pernah Engkau berikan. Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan. Cint...
-
Bumi dan Air Bumi dan air adalah kehidupan. Manfaatnya dirasakan oleh setiap insan. Aku mencintai lingkungan. Kamu pun tiada enggan me...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar