Minggu, 22 Maret 2020
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. Menyusun kata yang hakikatnya tak jua dijumpa. Kini bukan rangkaian prosa, namun mencoba menemukan makna. Bercerita mengenai pembanding dan hal yang layak dibanding-bandingkan.
Suatu sistem yang menjadi standar baik dan buruknya sesuatu hal seringkali menjadikan diri menjadi yang paling di-banding-kan dengan orang lain. Yang tak lain pula hanya mengenai kekurangan-kekurangan yang tak henti-hentinya dicari. Padahal, satu titik kelebihan saja tak mampu mereka lihat dengan lup yang punya pembesaran sempurna. Sebegitu tidak adilkah dunia?
Entah karena dalam pikiran telah berhenti bertanya kenapa ataukah memang sifatnya perbandingan di dunia, hingga kini belum mengerti apa dasar pikiran orang-orang. Lelah jika terus menjawab mengapa mereka sedemikian rupa melontarkan "A lebih baik daripada B", apa tidak ada standar lain yang mereka lihat? Terlebih ketika gagal, huihh dijatuhkan sejadi-jadinya, bak dari permukaan laut sampai ke palung yang paling dasar, sakit bukan?
Teruntuk generasi penerus bangsa yang mulia, regenerasi selanjutnya dimulai dari diri Anda, menciptakan insan-insan gemilang dengan segala pikiran kecerdasan dan naluri sosial, menjadi makhluk yang besar yang mampu menoleransi segala perbedaan atas kelebihan dan kekurangan. Pahamilah bahwa dunia bukan kompetisi. Tak ada ukuran menang atau kalah. Tak ada ukuran lebih cepat maupun lebih lambat. Tak ada pula yang berhak mengatakan unggul dan tidak unggul.
Masanya belajar tak terbatas. Mengatur pengetahuan dan menerapkannya sesuai keadaan menjadi tugas selanjutnya. Pada mereka yang enggan menerima, maka berilah pada mereka yang lain yang masih mau menghargai manusia. Proses belajar bersambung jika kita tak dapat menerima semua hasil dari rencana kita --berhasil atau gagal.
Teruntuk diriku di masa depan, pengetahuan berhak diperoleh setiap orang. Kecerdasan manusia berbeda-beda, tumbuhlah dengan bermacam kecerdasan itu hingga membuat diri kita unik. Semangat untuk kamu yang sedang berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kamu hebat dan kamu kuat:)
Kamis, 19 Maret 2020
Teruntuk Para Penyandang Mental Disorder
Pengetahuan tidak serta merta diwariskan sejak lahir. Ia dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, dan rasa ingin tahu akan beranekanya dunia di luar sana. Sungguh, genetik tak hentinya menjadi acuan sebuah didikan. Memang benar bahwa awal mula pembentukan biologis dan psikologis adalah karena polesan dari orang tua kita. Adakah yang dapat disalahkan di sini jika pada dewasanya kita tumbuh dengan salah? Pantaskah kita menyalahkan Tuhan yang telah memberi anugerah kepada orang tua kita atas lahirnya kita di dunia? Benar, segalanya patut disyukuri, walau hal sekecil apapun, niscaya akan membuat bahagia jika rasa syukur telah dulu ada.
Jika kamu punya luka batin atas masa kecilmu, bukan berarti ketika besar kau terus tenggelam di dalam sana. Iya aku tau kalo itu susah, terlebih lagi logikamu menolak untuk paham atas segala rasa sesak di dada, rasa yg tak pernah hilang dgn lega, rasa yg ingin terus kau maki kenyataannya.
Tapi yakinilah ini sebentar,
Kamu hidup di dunia untuk meraih akhir kehidupan yg kekal, kau merajutnya melalui proses pendewasaan yg memang rumit bersama kontradiksinya permasalahan. Kau akan membentuk sebuah keluarga dan memiliki anak yg tentunya ingin kamu didik dengan sangat baik, menumbuhkan perkembangan mental yg benar terhadap si anak. Sayang jika keluargamu nanti diabaikan begitu saja, padahal ladang pahala yang luar biasa.
Aku sedang tidak mengajarimu agar segera melakukan ini atau itu. Aku hanya ingin kamu bahagia yang tanpa palsu. Kebahagiaan tetap milik semua orang yang diberi anugerah massa untuk selalu bersyukur. Bukan bahagia yang menjadikanmu bersyukur, melainkan dengan bersyukurlah hidupmu akan bahagia. Mulailah berdamai dengan dirimu sendiri, temukan satu inchi rasa syukur yang semoga dapat menjadi satu akar tumbuhnya kebahagiaanmu kedepan.
Bias tak selamanya keliru, ia hanya tidak berada pada posisi yang tepat, sesuai sudut pandangnya sendiri. Bukankah segala kekurangan yang kita punya dapat ditutupi dengan segala kelebihan yang ada pula? Tidakkah akan mungkin kekurangan mengalahkan kelebihan jika bukan kita sendiri yang melemahkannya, benar. Tak ada gunanya berpikir latar belakang psikologi yang berbeda, karena dunia tak pernah mau tahu dan menerima. Dunia hanya perlu melihatmu sukses dengan seluruh transformasi yang kau lakukan dengan hebat.
Tataplah ke depan, percaya bahwa kamu selalu kuat, kamu yang akan mengubah dunia hitam-putihmu, dan kamu yang akan menciptakan masa depan generasi penerus yang cemerlang, tumbuh dengan mental yang benar, kuat menghadapi tantangan, serta selalu bersyukur atas segala pencapaian. Se-ma-ngat
Selasa, 17 Maret 2020
Teorema Berdamai dengan Diri Sendiri
Pada bening malam, sekelebat tanya berpadu dengan heningnya hembusan udara dingin, rintik hujan berselang-seling turun menukik ke permukaan. Hmm alam tak hentinya sepakat dengan hati mendung yang tengah kurasa. Tiap detik nampak tak percaya bahwa waktu kian berlalu begitu saja, meninggalkan mereka yang masih saja bungkam terhadap keadaan. Yang dilakukan pun hasilnya nihil. Berkali menguatkan agar "jangan sedih" tapi nyatanya tak semudah itu memberi asupan yang harapannya punya arti. Mari mulai berpersepsi.
Tulisan ini lahir atas pertanyaan "Bagaimana cara menerima kegagalan dengan lapang dada?" Bukan ingin membuat formula yang rumusannya berusaha meyakinkan untuk diterima, hanya ingin berusaha mempelajari apa yang diminta kognisi.
Ingat satu masa, di mana kita belum mengenal pena, baru mengenal indahnya bermain hingga lupa waktu, lupa makan, dan tak pernah kenal apa itu luka. Dewasa membuat kita berbeda, menuntut kita untuk segera beranjak, menyelami pikiran kebijakan yang dianggap sebagian orang sebagai tingkat pelapisan yang paling berani, sebab ia telah mampu melampaui batas yang telah ditetapkannya sendiri. Tumbuh lebih tinggi daripada orang di sekelilingnya. Benarkah bahwa kesuksesan lahir dari kebijakan?
Bukan, bahkan orang dewasa pun tak semuanya mampu mengelola diri bukan? Contohnya, jika mereka pandai mengatur emosi, mengapa masih terjadi perselisihan? Jika mereka pandai menoleransi, mengapa masih terjadi menjudge dengan cepat? Jika mereka telah berpikir bijak, mengapa masih terjadi kegagalan dalam perencanaan? Begitu tanya menembus batas mampunya, mereka akhirnya menemukan satu hal sederhana.
Sebuah teorema, ide yang diterima sebagai kebenaran. Descartes berkata dalam rumusannya bahwa jika saya pikir saya bisa, maka saya bisa. Satu kekuatan besar yang memasukkan kepercayaan pada kognisi, sebuah kendali atas semua yang terjadi pada diri, pusat segala yang tengah merajai langkah kaki. Mengapa teorema harus dikaitkan dengan kognisi? Apakah semua kebaikan terletak di pikiran? Jadi begini, sebelumnya aku ingatkan, masihkah kamu percaya bahwa alam bawah sadar mengatur 80% tindakanmu? Jika ia, mari lanjutkan pembahasan.
Lelah rasanya untuk berkata, "aku baik-baik saja," Hanya karena menutupi ketidakmampuan mental menghadapi kegagalan yang terjadi. Kemudian pengetahuan menyadarkanku bahwa aku harus berdamai dengan diri sendiri. Kendalimu adalah pikiranmu, kamu berdiri hingga kini akibat pikiranmu dengan segala perintah adaptasi yang mumpuni, segala rencana berhasil dan gagal karena pengaturanmu sendiri, sikapmu berusaha dan menerima pun perlu diapresiasi. Selagi kognisi dapat ditoleransi, mari memasukan kalimat-kalimat positif yang membangun semangat untuk kemajuan diri:)
Tulisan ini lahir atas pertanyaan "Bagaimana cara menerima kegagalan dengan lapang dada?" Bukan ingin membuat formula yang rumusannya berusaha meyakinkan untuk diterima, hanya ingin berusaha mempelajari apa yang diminta kognisi.
Ingat satu masa, di mana kita belum mengenal pena, baru mengenal indahnya bermain hingga lupa waktu, lupa makan, dan tak pernah kenal apa itu luka. Dewasa membuat kita berbeda, menuntut kita untuk segera beranjak, menyelami pikiran kebijakan yang dianggap sebagian orang sebagai tingkat pelapisan yang paling berani, sebab ia telah mampu melampaui batas yang telah ditetapkannya sendiri. Tumbuh lebih tinggi daripada orang di sekelilingnya. Benarkah bahwa kesuksesan lahir dari kebijakan?
Bukan, bahkan orang dewasa pun tak semuanya mampu mengelola diri bukan? Contohnya, jika mereka pandai mengatur emosi, mengapa masih terjadi perselisihan? Jika mereka pandai menoleransi, mengapa masih terjadi menjudge dengan cepat? Jika mereka telah berpikir bijak, mengapa masih terjadi kegagalan dalam perencanaan? Begitu tanya menembus batas mampunya, mereka akhirnya menemukan satu hal sederhana.
Sebuah teorema, ide yang diterima sebagai kebenaran. Descartes berkata dalam rumusannya bahwa jika saya pikir saya bisa, maka saya bisa. Satu kekuatan besar yang memasukkan kepercayaan pada kognisi, sebuah kendali atas semua yang terjadi pada diri, pusat segala yang tengah merajai langkah kaki. Mengapa teorema harus dikaitkan dengan kognisi? Apakah semua kebaikan terletak di pikiran? Jadi begini, sebelumnya aku ingatkan, masihkah kamu percaya bahwa alam bawah sadar mengatur 80% tindakanmu? Jika ia, mari lanjutkan pembahasan.
Lelah rasanya untuk berkata, "aku baik-baik saja," Hanya karena menutupi ketidakmampuan mental menghadapi kegagalan yang terjadi. Kemudian pengetahuan menyadarkanku bahwa aku harus berdamai dengan diri sendiri. Kendalimu adalah pikiranmu, kamu berdiri hingga kini akibat pikiranmu dengan segala perintah adaptasi yang mumpuni, segala rencana berhasil dan gagal karena pengaturanmu sendiri, sikapmu berusaha dan menerima pun perlu diapresiasi. Selagi kognisi dapat ditoleransi, mari memasukan kalimat-kalimat positif yang membangun semangat untuk kemajuan diri:)
Senin, 16 Maret 2020
Karena Kebermanfaatan Tak Perlu Dibanding-bandingkan
Karena Kebermanfaatan Tak Perlu Dibanding-bandingkan
Ruang dan waktu beriringan, menembus siapa pun yang tak mau kenal, bak pedang yang melibas tanpa mau mendengar penjelasan. Dunia tak mau kalah, terus berputar sampai ujungnya 'kan berhenti pada masa yang telah ditetapkan. Tugas manusia, cukup hanya menjadi yang bermanfaat, benar begitu sifat sosialnya manusia bukan?
Aku tak ingin mengambil banyak retoris, bukan pula menjadi seorang idealis yang menjabarkan bermacam ide hingga akhir tulisan ini. Setiap goresan pena dihidupkan dengan makna. Satu persatu mulai kita eja.
Di kehidupan, pernah ada yang bertanya begini, "Kamu udah belajar apa aja?" Dan akhirnya menjadi inspirasi segelintir makna yang ingin aku sampaikan di sini. Sedikit saja pikiran terusik, ia lantang memberi perspektif, luas atau dangkal, hal yang dapat kita evaluasi itu kemudian menjadi pembelajaran pula.
Bercerita layaknya Cinderella, terbatas pada detik jam yang bergerak menuju angka dua belas malam. Tak akan panjang lebar, hanya membahas fokus tadi, hehe.
Okey, setiap manusia punya tujuan. Punya arah, pandangan, prinsip, serta primodialisme baik dan buruk yang dijaga sejak dasar. Yang baik akan diambil dan yang buruk dijauhi. Proses belajar yang panjang untuk bertransformasi menjadi manusia yang benar-benar memanusiakan dirinya dan orang lain. Perspektif yang begitu dijaga sehingga dihormati yang lainnya. Lalu hubungannya apa?
Bakat dan potensi yang diberikan Allah berbeda, hingga mempengaruhi fokus yang diambil pun berbeda, menetapkan target, tujuan dan segala yang mampu mendukung sukses kita. Hanya saja, di tengah perjalanan, mengapa harus ada perbandingan?
"Si A kok keren banget si?"
"Lah si B dapet ini, aku kapan beruntungnya ya:("
"Eh kok kamu bisa sampe sejauh ini ngapain aja weyy?!"
Jawaban atas semua itu sederhana. Lihatlah pada dirimu. Mengapa fokusmu berubah ketika melihat orang lain berbondong-bondong memamerkan target yang telah mereka capai. Seakan mau berkata, "Aku menang dan kamu kalah". Sebentar, bukan begitu, mereka sejak dulu hanya fokus pada yang sedang mereka kerjakan, fokus pada proses yang mereka punya. Tak hanya sejengkal, sedepa, dan satuan panjang yang lebih besar, lebih, mereka melalui perjalanan yang jalannya mereka sendiri yang tau. Dimana kita harus memiliki prinsip bahwa kita berusaha bukan untuk menjadi lebih baik di mata orang lain, tapi kita berusaha untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri.
Nah loh, kalo gitu berarti standar diri kita jadi rendah dong? Ga gitu kok, belum tentulah, karena perkembangannya nanti beda. Kita tumbuh di kolom A, sedang teman kita berada di jalur B. Tentu perbandingan yang tak dapat ditentukan bukan?
Teruslah bermanfaat dalam proses yang sedang kamu pegang kuncinya, fokus yang sedang kamu kendalikan jalannya, hingga standar sukses yang telah kamu tetapkan pencapaiannya. Selamat berproses ya, hati yang baik! :)
Ruang dan waktu beriringan, menembus siapa pun yang tak mau kenal, bak pedang yang melibas tanpa mau mendengar penjelasan. Dunia tak mau kalah, terus berputar sampai ujungnya 'kan berhenti pada masa yang telah ditetapkan. Tugas manusia, cukup hanya menjadi yang bermanfaat, benar begitu sifat sosialnya manusia bukan?
Aku tak ingin mengambil banyak retoris, bukan pula menjadi seorang idealis yang menjabarkan bermacam ide hingga akhir tulisan ini. Setiap goresan pena dihidupkan dengan makna. Satu persatu mulai kita eja.
Di kehidupan, pernah ada yang bertanya begini, "Kamu udah belajar apa aja?" Dan akhirnya menjadi inspirasi segelintir makna yang ingin aku sampaikan di sini. Sedikit saja pikiran terusik, ia lantang memberi perspektif, luas atau dangkal, hal yang dapat kita evaluasi itu kemudian menjadi pembelajaran pula.
Bercerita layaknya Cinderella, terbatas pada detik jam yang bergerak menuju angka dua belas malam. Tak akan panjang lebar, hanya membahas fokus tadi, hehe.
Okey, setiap manusia punya tujuan. Punya arah, pandangan, prinsip, serta primodialisme baik dan buruk yang dijaga sejak dasar. Yang baik akan diambil dan yang buruk dijauhi. Proses belajar yang panjang untuk bertransformasi menjadi manusia yang benar-benar memanusiakan dirinya dan orang lain. Perspektif yang begitu dijaga sehingga dihormati yang lainnya. Lalu hubungannya apa?
Bakat dan potensi yang diberikan Allah berbeda, hingga mempengaruhi fokus yang diambil pun berbeda, menetapkan target, tujuan dan segala yang mampu mendukung sukses kita. Hanya saja, di tengah perjalanan, mengapa harus ada perbandingan?
"Si A kok keren banget si?"
"Lah si B dapet ini, aku kapan beruntungnya ya:("
"Eh kok kamu bisa sampe sejauh ini ngapain aja weyy?!"
Jawaban atas semua itu sederhana. Lihatlah pada dirimu. Mengapa fokusmu berubah ketika melihat orang lain berbondong-bondong memamerkan target yang telah mereka capai. Seakan mau berkata, "Aku menang dan kamu kalah". Sebentar, bukan begitu, mereka sejak dulu hanya fokus pada yang sedang mereka kerjakan, fokus pada proses yang mereka punya. Tak hanya sejengkal, sedepa, dan satuan panjang yang lebih besar, lebih, mereka melalui perjalanan yang jalannya mereka sendiri yang tau. Dimana kita harus memiliki prinsip bahwa kita berusaha bukan untuk menjadi lebih baik di mata orang lain, tapi kita berusaha untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri.
Nah loh, kalo gitu berarti standar diri kita jadi rendah dong? Ga gitu kok, belum tentulah, karena perkembangannya nanti beda. Kita tumbuh di kolom A, sedang teman kita berada di jalur B. Tentu perbandingan yang tak dapat ditentukan bukan?
Teruslah bermanfaat dalam proses yang sedang kamu pegang kuncinya, fokus yang sedang kamu kendalikan jalannya, hingga standar sukses yang telah kamu tetapkan pencapaiannya. Selamat berproses ya, hati yang baik! :)
Sabtu, 22 Februari 2020
Pilihan dan Sebuah Keyakinan
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depan. Berkali aku bertanya, "Ini harus bagaimana? Aku mau pilih apa?"
Beribu masa memberi jawaban, namun tetap saja ada perbedaan, entah itu satu hal yang membuat diri ini tertarik sekejap, maupun yang sedari dulu telah dimantapkan namun nyatanya bukan minat.
Telah banyak kita baca, bahwa hidup adalah pilihan, manusia adalah makhluk sosial. Saking sosialnya, ia terus menampung berbagai perspektif tentang hal yang ingin ia putuskan. Ah cukup rumit, hingga benar-benar rumit.
Masing-masing dari kita punya satu latar yang berbeda, menjadikan pandangan akan suatu hal pun beragam macamnya. Layaknya sebuah foto, ia dikelilingi bingkai yang punya bermotif berbeda satu sama lainnya. Bagaimana akan membentuk citra foto yang indah, jika bingkai itu tetap tak seiras?
Terkadang aku memaki apa yang terjadi pada diri, mengapa hanya hal kecil saja, membuat kepala ini pening, semakin tak dapat melepaskan benang yang terjerat rumit tadi. Lagi-lagi aku diingatkan pada prinsip yang dibangun sedari dasar, seakan memaksaku untuk kembali ke titik paling dalam, relung jiwa dan kebesaran hati.
Kembali tersadarkan bahwa hidup adalah tentang Tuhan dan Keluarga, serta orang sekitar juga utama. Orang-orang memang hebat, terlebih lagi mereka yang selalu di sisi, keluarga. Tak pernah sedikit pun berpikir pada benak untuk menjerumuskan ke yang tidak baik. Namun kenyataan seringkali tak semanis suatu idealis. Kehidupan berubah begitu cepat, keras, dan penuh dengan kekecewaan.
Akhirnya aku berpikir, bahwa sebuah keyakinan memang mesti dijaga dari sekarang hingga masa depan sampai kamu mencapai standar suksesmu. Keyakinan itu ada pada jalan Tuhan. Dia telah memberi jalan suksesmu. Maka tugasmu hanya percaya bahwa Dia akan memberi yang terbaik dalam setiap langkah hidupmu.
Allah tak pernah menyuruh hamba-Nya untuk sukses, namun Dia selalu menyuruh hamba-Nya untuk selalu berusaha. Dan yang aku yakini bahwa ketika kita telah berusaha pasti kita akan mendapatkan hasilnya asalkan kita percaya, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.
Tak pernah sedikitpun Tuhan mengecewakan kita. Jika datang musibah yang memberi air mata, niscaya ia hanyalah satu ombak keras yang menguji kebesaran hati. Tidak jua ada yang melarang untuk kecewa dengan semua reaksi atas yang telah Tuhan beri. Namun yang perlu dihindari jika berharap kepada manusia. Semakin dewasa, kita perlu belajar yang namanya kecewa.
Satu mimpi yang membuat optimisku semakin bertambah. Setiap pilihan adalah sebuah janji pada diri sendiri. Apakah engkau akan meyakini hingga akhirnya kau menepatinya nanti? Aku percaya setiap keputusan pasti ada jalan Tuhan. Meski kita tak tahu ia yang terbaik atau justru sebalik, namun yang kita yakini adalah Tuhan pasti memberi yang terbaik.
Pada jalan di bawah langit yang kini tergusur hujan lebat. 22 Feb 20
Inspirator tulisanku https://instagram.com/danyahmad_02?igshid=bgwnts2ixncr
Beribu masa memberi jawaban, namun tetap saja ada perbedaan, entah itu satu hal yang membuat diri ini tertarik sekejap, maupun yang sedari dulu telah dimantapkan namun nyatanya bukan minat.
Telah banyak kita baca, bahwa hidup adalah pilihan, manusia adalah makhluk sosial. Saking sosialnya, ia terus menampung berbagai perspektif tentang hal yang ingin ia putuskan. Ah cukup rumit, hingga benar-benar rumit.
Masing-masing dari kita punya satu latar yang berbeda, menjadikan pandangan akan suatu hal pun beragam macamnya. Layaknya sebuah foto, ia dikelilingi bingkai yang punya bermotif berbeda satu sama lainnya. Bagaimana akan membentuk citra foto yang indah, jika bingkai itu tetap tak seiras?
Terkadang aku memaki apa yang terjadi pada diri, mengapa hanya hal kecil saja, membuat kepala ini pening, semakin tak dapat melepaskan benang yang terjerat rumit tadi. Lagi-lagi aku diingatkan pada prinsip yang dibangun sedari dasar, seakan memaksaku untuk kembali ke titik paling dalam, relung jiwa dan kebesaran hati.
Kembali tersadarkan bahwa hidup adalah tentang Tuhan dan Keluarga, serta orang sekitar juga utama. Orang-orang memang hebat, terlebih lagi mereka yang selalu di sisi, keluarga. Tak pernah sedikit pun berpikir pada benak untuk menjerumuskan ke yang tidak baik. Namun kenyataan seringkali tak semanis suatu idealis. Kehidupan berubah begitu cepat, keras, dan penuh dengan kekecewaan.
Akhirnya aku berpikir, bahwa sebuah keyakinan memang mesti dijaga dari sekarang hingga masa depan sampai kamu mencapai standar suksesmu. Keyakinan itu ada pada jalan Tuhan. Dia telah memberi jalan suksesmu. Maka tugasmu hanya percaya bahwa Dia akan memberi yang terbaik dalam setiap langkah hidupmu.
Allah tak pernah menyuruh hamba-Nya untuk sukses, namun Dia selalu menyuruh hamba-Nya untuk selalu berusaha. Dan yang aku yakini bahwa ketika kita telah berusaha pasti kita akan mendapatkan hasilnya asalkan kita percaya, karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.
Tak pernah sedikitpun Tuhan mengecewakan kita. Jika datang musibah yang memberi air mata, niscaya ia hanyalah satu ombak keras yang menguji kebesaran hati. Tidak jua ada yang melarang untuk kecewa dengan semua reaksi atas yang telah Tuhan beri. Namun yang perlu dihindari jika berharap kepada manusia. Semakin dewasa, kita perlu belajar yang namanya kecewa.
Satu mimpi yang membuat optimisku semakin bertambah. Setiap pilihan adalah sebuah janji pada diri sendiri. Apakah engkau akan meyakini hingga akhirnya kau menepatinya nanti? Aku percaya setiap keputusan pasti ada jalan Tuhan. Meski kita tak tahu ia yang terbaik atau justru sebalik, namun yang kita yakini adalah Tuhan pasti memberi yang terbaik.
Pada jalan di bawah langit yang kini tergusur hujan lebat. 22 Feb 20
Inspirator tulisanku https://instagram.com/danyahmad_02?igshid=bgwnts2ixncr
Langganan:
Komentar (Atom)
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...
-
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depa...
-
Rindu. Diatas sajadah kutitipkan. Derai cinta yang pernah Engkau berikan. Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan. Cint...
-
Bumi dan Air Bumi dan air adalah kehidupan. Manfaatnya dirasakan oleh setiap insan. Aku mencintai lingkungan. Kamu pun tiada enggan me...



