Karena Kebermanfaatan Tak Perlu Dibanding-bandingkan
Ruang dan waktu beriringan, menembus siapa pun yang tak mau kenal, bak pedang yang melibas tanpa mau mendengar penjelasan. Dunia tak mau kalah, terus berputar sampai ujungnya 'kan berhenti pada masa yang telah ditetapkan. Tugas manusia, cukup hanya menjadi yang bermanfaat, benar begitu sifat sosialnya manusia bukan?
Aku tak ingin mengambil banyak retoris, bukan pula menjadi seorang idealis yang menjabarkan bermacam ide hingga akhir tulisan ini. Setiap goresan pena dihidupkan dengan makna. Satu persatu mulai kita eja.
Di kehidupan, pernah ada yang bertanya begini, "Kamu udah belajar apa aja?" Dan akhirnya menjadi inspirasi segelintir makna yang ingin aku sampaikan di sini. Sedikit saja pikiran terusik, ia lantang memberi perspektif, luas atau dangkal, hal yang dapat kita evaluasi itu kemudian menjadi pembelajaran pula.
Bercerita layaknya Cinderella, terbatas pada detik jam yang bergerak menuju angka dua belas malam. Tak akan panjang lebar, hanya membahas fokus tadi, hehe.
Okey, setiap manusia punya tujuan. Punya arah, pandangan, prinsip, serta primodialisme baik dan buruk yang dijaga sejak dasar. Yang baik akan diambil dan yang buruk dijauhi. Proses belajar yang panjang untuk bertransformasi menjadi manusia yang benar-benar memanusiakan dirinya dan orang lain. Perspektif yang begitu dijaga sehingga dihormati yang lainnya. Lalu hubungannya apa?
Bakat dan potensi yang diberikan Allah berbeda, hingga mempengaruhi fokus yang diambil pun berbeda, menetapkan target, tujuan dan segala yang mampu mendukung sukses kita. Hanya saja, di tengah perjalanan, mengapa harus ada perbandingan?
"Si A kok keren banget si?"
"Lah si B dapet ini, aku kapan beruntungnya ya:("
"Eh kok kamu bisa sampe sejauh ini ngapain aja weyy?!"
Jawaban atas semua itu sederhana. Lihatlah pada dirimu. Mengapa fokusmu berubah ketika melihat orang lain berbondong-bondong memamerkan target yang telah mereka capai. Seakan mau berkata, "Aku menang dan kamu kalah". Sebentar, bukan begitu, mereka sejak dulu hanya fokus pada yang sedang mereka kerjakan, fokus pada proses yang mereka punya. Tak hanya sejengkal, sedepa, dan satuan panjang yang lebih besar, lebih, mereka melalui perjalanan yang jalannya mereka sendiri yang tau. Dimana kita harus memiliki prinsip bahwa kita berusaha bukan untuk menjadi lebih baik di mata orang lain, tapi kita berusaha untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri.
Nah loh, kalo gitu berarti standar diri kita jadi rendah dong? Ga gitu kok, belum tentulah, karena perkembangannya nanti beda. Kita tumbuh di kolom A, sedang teman kita berada di jalur B. Tentu perbandingan yang tak dapat ditentukan bukan?
Teruslah bermanfaat dalam proses yang sedang kamu pegang kuncinya, fokus yang sedang kamu kendalikan jalannya, hingga standar sukses yang telah kamu tetapkan pencapaiannya. Selamat berproses ya, hati yang baik! :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...
-
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depa...
-
Rindu. Diatas sajadah kutitipkan. Derai cinta yang pernah Engkau berikan. Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan. Cint...
-
Bumi dan Air Bumi dan air adalah kehidupan. Manfaatnya dirasakan oleh setiap insan. Aku mencintai lingkungan. Kamu pun tiada enggan me...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar