Pada bening malam, sekelebat tanya berpadu dengan heningnya hembusan udara dingin, rintik hujan berselang-seling turun menukik ke permukaan. Hmm alam tak hentinya sepakat dengan hati mendung yang tengah kurasa. Tiap detik nampak tak percaya bahwa waktu kian berlalu begitu saja, meninggalkan mereka yang masih saja bungkam terhadap keadaan. Yang dilakukan pun hasilnya nihil. Berkali menguatkan agar "jangan sedih" tapi nyatanya tak semudah itu memberi asupan yang harapannya punya arti. Mari mulai berpersepsi.
Tulisan ini lahir atas pertanyaan "Bagaimana cara menerima kegagalan dengan lapang dada?" Bukan ingin membuat formula yang rumusannya berusaha meyakinkan untuk diterima, hanya ingin berusaha mempelajari apa yang diminta kognisi.
Ingat satu masa, di mana kita belum mengenal pena, baru mengenal indahnya bermain hingga lupa waktu, lupa makan, dan tak pernah kenal apa itu luka. Dewasa membuat kita berbeda, menuntut kita untuk segera beranjak, menyelami pikiran kebijakan yang dianggap sebagian orang sebagai tingkat pelapisan yang paling berani, sebab ia telah mampu melampaui batas yang telah ditetapkannya sendiri. Tumbuh lebih tinggi daripada orang di sekelilingnya. Benarkah bahwa kesuksesan lahir dari kebijakan?
Bukan, bahkan orang dewasa pun tak semuanya mampu mengelola diri bukan? Contohnya, jika mereka pandai mengatur emosi, mengapa masih terjadi perselisihan? Jika mereka pandai menoleransi, mengapa masih terjadi menjudge dengan cepat? Jika mereka telah berpikir bijak, mengapa masih terjadi kegagalan dalam perencanaan? Begitu tanya menembus batas mampunya, mereka akhirnya menemukan satu hal sederhana.
Sebuah teorema, ide yang diterima sebagai kebenaran. Descartes berkata dalam rumusannya bahwa jika saya pikir saya bisa, maka saya bisa. Satu kekuatan besar yang memasukkan kepercayaan pada kognisi, sebuah kendali atas semua yang terjadi pada diri, pusat segala yang tengah merajai langkah kaki. Mengapa teorema harus dikaitkan dengan kognisi? Apakah semua kebaikan terletak di pikiran? Jadi begini, sebelumnya aku ingatkan, masihkah kamu percaya bahwa alam bawah sadar mengatur 80% tindakanmu? Jika ia, mari lanjutkan pembahasan.
Lelah rasanya untuk berkata, "aku baik-baik saja," Hanya karena menutupi ketidakmampuan mental menghadapi kegagalan yang terjadi. Kemudian pengetahuan menyadarkanku bahwa aku harus berdamai dengan diri sendiri. Kendalimu adalah pikiranmu, kamu berdiri hingga kini akibat pikiranmu dengan segala perintah adaptasi yang mumpuni, segala rencana berhasil dan gagal karena pengaturanmu sendiri, sikapmu berusaha dan menerima pun perlu diapresiasi. Selagi kognisi dapat ditoleransi, mari memasukan kalimat-kalimat positif yang membangun semangat untuk kemajuan diri:)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hidup dengan Perbandingan?
Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...
-
Pilihan menyadarkanku akan sebuah keyakinan. Tentang pengambilan satu keputusan yang akan berpengaruh besar terhadap perubahan hidup ke depa...
-
Rindu. Diatas sajadah kutitipkan. Derai cinta yang pernah Engkau berikan. Meski jarak jauh tak terbayangkan. PadaMu ku persaksikan. Cint...
-
Bumi dan Air Bumi dan air adalah kehidupan. Manfaatnya dirasakan oleh setiap insan. Aku mencintai lingkungan. Kamu pun tiada enggan me...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar