Sabtu, 14 Juli 2018

Sajadah Rindu 2

Sajadah Rindu
Angin lalu menyapaku yang tengah bisu
Aku kini tak percaya pada Ilusi semu
Kembali ke masa yang tak pernah ku tahu
Berujung di tengah alunan nada berajut warna biru
Dan semua berakhir kata tunggu
Bersabarlah kamu
Waktu akan berlalu
Meninggalkan kisah penyesalan sendu
Mengubah rasaku seperti dahulu
Mengenang percakapan malam di mana bulan dan bintang tak kunjung bertemu
Menanti kehangatan mentari pada dinginnya malam selalu menghadirkan rindu
Aku memang tak pernah sehebat kamu
Namun ku percaya kau telah mampu menghebatkanku
Ku harap kita kembali bertemu
Pada jalan panas dalam langit biru
Aku menunggu
Sembari ku benari sajadahku.

Ilusi Semu

Ilusi Semu

Secerca cahaya hinggap pada jendela kesendirian
Sepasang mata tersenyum tipis tanpa binar
Langkahnya masih dibersamai dengan hati besar keegoisan
Pesanku terbawa angin tanpa tujuan
Tak tahu akan tersampaikan
Setetes ilusi jatuh dalam palung setengah mengitari lautan
Nampaknya ia rindu akan sekumpulan air yang meneduhkan
Sayangnya itu hanya ketiadaan tanpa harapan keadaan.
Rasaku terbangkan ke langit
Namun kalah oleh mendungnya serta hati
Dia bilang sudah saja kau menyerah
Aku pasrah
Yang hilang biarlah hilang
Sebab apa-apa bukan milikku
Tenggelam bersama daun yang baginya adalah mekar
Harus ku lalui meski hati menyakiti fikirannya sendiri
Baik-baik di sana wahai embun Yang bersahaja

Sabtu, 07 Juli 2018

Kenangan Senja

Selamat malam penantian, terima kasih ku ucapkan untuk hari ini sebab kamu masih bersama ku dalam kesabaran. Kini beristirahatlah sejenak. Sederetan tanya telah mengajukan dirinya hingga menerjang sampai ke tengah kesunyian.
Mengapa aku tidak mau memulai terlebih dahulu tentang sebuah percakapan sederhana?
Apa aku terlalu takut untuk melihat matamu? Jatuh. Kemudian sulit kembali ke pangkuan angan ku sendiri. Maafkan aku atas waktu yang telah terbunuh sia-sia. Sudah terlalu lama semua bermain dengan perannya. Aku sudah terlanjur jahat terhadap mu, maaf. Telah ku tetapkan pada hatiku yang berdebu,  membersihkan dengan air mata kesadaran. Sekarang saatnya memenuhi panggilan hati kecilku. Sebab seluruh yang ada bisa membuat perubahan. Mulailah dengan memberi, apa yang kau miliki dan pahami. Kini malam ku berteman dengan secarik kertas runcing. Ku simpan langkah-langkah yang telah ku ukir. Selamat jalan untukmu yang akan meraih mimpi. Pergilah dengan kebaikan yang ada padamu. Kamu hebat karena telah menghebatkanku. Terima kasih untukmu, yang teramat baik.

Senin, 16 April 2018

Waktupun rindu

Sunyinya waktu membuatku terlelap bisu
Waktupun akan lelah, seperti aku sekarang
Tapi cerita dongeng peri kecilku selalu berkata
Bahwa waktu takkan menyerah
Menyerahnya waktu adalah ketika ia berhenti bekerja
Kesunyiannya akan melemahkan mereka yang kurang menghargai
Waktu, bolehkah aku mengajukan satu?
Pertanyaan tentang segala keluhku?
Kapan kau akan membuka pintu rahasiamu?
Rahasia tentang kapan aku akan bertemu dengannya
Rahasia apakah dia selalu akan baik-baik saja
Tapi apa kau mampu menjawab 1001 pertanyaanku tentang rahasiamu?
Oh, sepertinya aku keliru
Menanyakan rahasia kepada pemiliknya
Waktu tak bisa menjawab rahasianya

Kupandangi langit atap kamar berwarna biru
Waktu berdetak detik demi detik mengikuti pemikiranku
Aku termenung... Lagi lagi tentang rindu
Bulan.. Apa kau sudah menyampaikan rinduku?
Atau bintang kau lupa memberitahu rembulan?
Aku merasa jenuh..
Dengan hanya satu nama yg terus muncul menjadi sasaran rinduku
Malam yang kelabu selalu pantas sebagai waktu untuk mengadukan rindu
Berterimakasihlah...
Sebelum Sang Raja Siang mengambil kerinduanmu dan menggantinya dengan keceriaan baru
Akankah kau lakukan itu, Mentari?

- Oktober 24, 2017

Minggu, 15 April 2018

Tentang Rasa


-Tentang Rasa-

Kali ini saya menyerah..
Menyerah dengan cinta selain pada-Nya
Aku tak mau menunggu
Aku lelah menunggu..
Aku diam bukan berati bisu
Diam bukan berati tak memperhatikan
Diam bukan berati acuh
Diam bukan berati tak tau
Diam bukan berati tak merasakan
Diam buukan berati kalah
Diam bukan berati tak mau tau.
Aku diam tapi memperhatikan
Diam tapi peduli
Diam memperhatikan
Aku memendam rasa dalam diam
Mungkin kau tak mau tau tentang ini
Kau tak peduli
Kau tak mau menoleh sedikitpun
Kau acuh

Tapi terimakasih.. karena kau yang sepergi itu,sekarang aku tak mau tau tentajgmu.
Dan aku takkan membiarkan kau masuk lebih dalam pada celah hatiku yg terbuka meski sangat sedikit.
Akan ku tutup rapat-rapat.
Dan aku akan tetap diam.
Sampai kapan?
Sampai waktunya aku kan berbicara..
Maaf,aku menjauh..
Dan jangan harap ketika aku sudah memutuskan melangkah maju,aku akan berbalik arah dan berjalan mundur.
Doakan saja,agar aku sdlalu di tetapkan dalam agama-Nya
Dan istiqomah tentunya menjalani semua ini.. Hanya karena-Nya
Dan aku harap,kau pun begitu..

Selamat tinggal kau yg pernah berada lama di hatiini..
Aku tak mau berharap lagi padamu.. Dan aku tak mau hidup dalam bayangan di mana aku bersamamu.
.
Aku ingin menatap lurus masa depanku..
Aku tak mau terlalu berharap padamu,kecuali takdir Allah yg akan mempersatukan kelak..
Kalau tak bersatu di kemudian hari ?
Tenang,kita kan dipersatukan dengan orang yg paliiingg tepat melengkapi separuh agama pada diri masing"..

Barakallahfiik
-Neng Kinar | 04 September 2017

Ig : @sajadah.rindu

Sajak Langit


Langit biru selalu menungguku tanpa khawatir. Aku akan turun ke jalan walau panas. Janjinya kamu bisa menjadi apa dengan apa yang kamu tahu. Merindukan luka memang sangatlah sulit bagi yg berpikiran itu sulit. Berteman dengan kegagalan terkadang merupakan keharusan. Adalah tentang proses, menghidupkan dalam hati, fikiran, dan tindakan. Sebuah hal berharga yang patut untuk dihargai.
.
.
.
Wahai Langit Yang Maha Luas, ku terbangkan impianku dengan doa kepadamu. Aku tahu kau akan menerimanya tanpa batas. Jika impian itu baik bagiku, lapangkanlah hati ku untuk selalu melawan batu yang dengan segera akan menghadang. Jika impian itu tidak baik, bolehkan mimpi itu masih menghiasi Langit biru ku?
Semoga kita selalu diberi kesabaran dalam menggapai impian kita. Aamiin.

Minggu, 11 Februari 2018

Read this!!!

Hidupkanlah dalam hatimu. Sebuah proses adalah jalan menuju sebuah hal yang kamu raih. Hidupkanlah dalam pikiranmu. Bahwa proses adalah suatu hal yang harus lebih kamu hargai. Hidupkanlah dalam tindakanmu. Bahwa kamu berhak untuk berproses menjadi lebih baik lagi. (MBIB-206)
Sabarlah hati, sabarlah keinginan. Apa yang kamu butuhkan sekarang tentunya Allah sudah mengetahuinya dengan baik. Sebab Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hatimu. Sedalam apa pun, seluas apa pun, dan serumit apa pun. Dan yang perlu kamu tahu adalah bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (KT-73)

Hidup dengan Perbandingan?

Ini tentang manusia lemah yang selalu bungkam, kelakarnya mengambang di permukaan, yang hanya mampu memainkan senandika tanpa tata krama. M...